Sumpah Pemuda merupakan sebuah momen yang pertama kali menyatukan bangsa Indonesia dalam keberagamannya dan disini pula merupakan bukti yang sangat nyata dimana bangsa Indonesia pertama kali dilahirkan, pada tanggal 28 oktober tersebut di jalan Kramat Raya 106 berkumpul semua elemen pemuda Indonesia mulai Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dll. Mereka semua berikrar dan membulatkan tekad dalam satu tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia yang kemudian hal tersebut terwujud pada tanggal 17 agustus 1945 yaitu Kemerdekaan Indonesia.
Namun jika ditarik garis waktu dengan kondisi yang ada sekarang 82 tahun setelah Sumpah Pemuda, mungkin kita sangat miris jika melihat keadaan sebagian Pemuda Indonesia. Perpecahan dan konflik timbul dimana-mana kadangkala bermula dari perselisihan pemuda yang akhirnya merebak ke kerusuhan yang lebih besar. Mungkin ini ada sedikit bukti kondisi Pemuda Indonesia yang sekarang:
- Hilangnya rasa supportif antara para suporter sepakbola sehingga seringkali terjadi kerusuhan yang berawal dari tidak terima atas kekalahan timnya dan yang berkonflik disini kebanyakan adalah Pemuda.
- Tawuran antar kampung, walaupun mereka masih satu suku atau satu bangsa mereka rela untuk saling menyakiti, perselisihan seperti ini kebanyakan dimulai oleh perselisihan antar pemuda yang kemudian berujung pada perselisihan kampung.
- Kerusuhan antar fans band dan konser musik, kerusuhan seperti ini sering kita saksikan di pemberitaan TV kebanyakan dimulai dengan saling ejek antar pemuda kemudian berkembang menjadi kerusuhan luas. Mereka dengan rela mempertaruhkan dirinya hanya untuk band daripada demi persatuan dan perdamaian.
- Tawuran antar pelajar, hal ini yang membuat kita makin miris tentang keadaa pemuda Indonesia dimana seharusnya mereka mengisi waktunya untuk menuntut ilmu dan hal berguna namun terkadang kita melihat para pelajar dengan eksisnya mereka tawuran dengan sekolah lain.
Namun kita semua sebagai pemuda Indonesia mungkin baru-baru ini diingatkan oleh Tuhan yaitu dengan bencana yang bertubi-tubu melanda negeri ini. Pertama adalah banjir bandang di Wasior, Papua Barat, kemudian disusul oleh gempa dan tsunami di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dan yang terakhir adalah meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta. Hal ini merupakan selain adalah musibah bagi bangsa namun ada hikmah yang lebih besar terkandung didalamnya untuk mengajak semua komponen bansa ini khususnya pemuda untuk bersatu dan peduli terhadap kesusahan saudaranya sebangsa dan setanah air.
Peristiwa tersebut kembali mengajak kita untuk merenung sebagai bangsa Indonesia khusunya pemuda untuk kembali merapatkan barisan dalam bentuk persatuan. Selama ini karena kesibukan setiap orang, dan kebesaran ego masing-masing, kita tidak pernah atau jarang berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekeliling kita. Bahkan, mungkin saja kita sudah melupakan orang-orang yang ada di pulau-pulau jauh seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan. Kita hanya mengingat bahwa Indonesia hanya ada di Pulau Jawa dan bisa saja kita menjadi lupa tentang apa itu INDONESIA apa itu NUSANTARA, apa itu PERSATUAN, apa itu KEDAULATAN, apa itu KESATUAN. Yang lebih mengenaskan tentunya mereka yang lebih jau di pulau-pulau tersebut lebih mengingat hal tersebut dibandingkan dengan kita. Oleh karena itu yang harus kita lakukan adalah dengan segera merubah paradigma salah seperti itu.
Trus kita sebagai pemuda apa yang dapat kita lakukan? Sebagai pemuda Indonesia yang pada jaman sekarang hidup di jaman yang serba digital kita bisa melakukan segala hal positif termasuk acara yang diberi nama Sumpah Pemuda 2.0. Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah gerangan yang disebut sebagai Sumpah Pemuda 2.0 yaitu sebuah acara yang digelar oleh PT XL Axiata Tbk (XL) Gedung Kebangkitan Nasional (Stovia), dengan kegiatan tersebut diharapkan nantinya akan tercipta motivasi menuju masyarakat Indonesia yang lebih baik dan berprestasi dengan mengajak seluruh pemuda Indonesia yang tergabung dalam komunitas digital untuk turut mengadopsi nilai-nilai kebangsaan yaitu Persatuan dan Kesatuan seperti yang diikrarkan pendahulu bangsa 82 tahun yang lalu. Pada acara ini digelar pengucapan sumpah Pemuda seperti pada 82 tahun lalu bersama-sama 14 komunitas blogger Indonesia yang hadir diantaranya komunitas Blogger Makasar, Manado, Ambon, Kalimantan, Padang, Medan, Palembang, Surabaya, Semarang, Jogjakarta, Solo, Bandung, Jakarta. Dan sumpah tersebut langsung diucapkan dan online via twitter dan kemudian di Re-Tweet sehingga para pengguna twitter juga merasakan seperti apa yang terjadi di Gedung Stovia tersebut.
Acara kemudian dilanjutkan dengan Talkshow dengan pembicara kondang diantaranya Sejarawan, Anhar Gonggong; Sosiolog dan pemerhati masalah sosial, Imam K Prasodjo; Entreprenuer, Adri Subono; serta praktisi dan penggiat sosial media, Iman Brotoseno; dan budayawan Jaya Suprana sebagai moderator. Tidak lupa pula ada kegiatan napak tilas tentang peristiwa sumpah pemuda yang diadakan di Gedung Kebangkitan Nasional tersebut. Oh iya kegiatan Sumpah Pemuda 2.0 ini tercatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penyelenggara acara deklarasi sumpah Pemuda melalui jejaring sosial terbanyak. Bangga bukan menjadi pemuda di anggota komunitas online!
Dalam kaitannya dengan bencana telah nyata terlihat bagaimana gerakan dari komunitas onliner yang begitu kuat sehingga mampu menggalang dana kemanusian untuk Mentawai, Merapi dan Wasior dengan memiliki satu slogan #PrayforIndonesia. Bantuan tersebut digalang dengan cepat pada waktu terjadi bencana, bahkan gerak mereka lebih cepat dari yang pemerintah lakukan. Hal ini merupakan suatu yang patut dibanggakan karena gerakan para onliner tidak terbatas pada dunia maya tetapi juga teraplikasi di dunia nyata. Dengan adanya hal tersebut bisa dibuktikan bahwa ini Persatuan dan Kesatuan tidak boleh hanya terbatas pada jarak dan waktu tetapi yang lebih mendasar adalah semangat nilai-nilai luhur tersebut yang tetap tertanam pada hati dan jiwa masing-masing anak bangsa. Kalau bisa diambil kesimpulan dari Sumpah Pemuda 2.0 adalah ingin mengajak semua elemen bangsa khususnya yang tergabung dalam komunitas online sebagai ujung tombak pergerakan menjaga semangat Persatuan, Kesatuan, Kedaulatan dan Kebhinekaan bangsa di era yang serba digital dan globalisasi saat ini.
Hari ini Indonesia bukan lagi Merdeka atau mati!
Hari ini Indonesia adalah Berubah atau punah!
